NEKTAR, *saripati bunga*

"Wahai putra-putriku, sudah saatnyalah kalian membentuk sebuah wadah yang di dalamnya kalian saling nasehat-menasehati dalam kebenaran."


MOnggo YanG MaU tAnyA....   Submit

Spanduk ‘SEXY’

              Siang itu cukup terik, tapi jalan Ir. Juanda, Jakarta Selatan saat itu masih dipadati ribuan kendaraan yang berlalu-lalang. Seakan tak peduli panasnya udara saat itu, tepat pukul  10.30 WIB aku merapatkan motorku ke sisi jalan itu. Ada sesuatu yang ganjil dalam pandanganku sehingga rusuk tulang belakangku mengirimkan impuls ke otak yang menghasilkan gerakan respon untuk berhenti di sisi jalan Ir. Juanda itu. Rem kaki dan rem tangan pun bekerjasama memberhentikan motorku dengan sedikit mendadak.

                Universitas Muhammadiyah Jakarta tepat di seberang jalan dimana aku berhenti. Sebahagian besar bangunan universitas itu dibaluti dengan warna hijau tua sebagai warna khas yang biasanya menggambarkan image Islam, walaupun entah apa makna filosofinya dan darimana pula kesan itu berasal. Di depannya berdiri kokoh gapura yang kedua tiangnya mirip nuansa istana kaum ‘Ad. Tulisan Universitas Muhammadiyah Jakarta membentang diantara keduanya. Di tulis dengan huruf latin yang sedikit dibubuhi dengan unsur khot arab di dalamnya. Sepengetahuanku Prof. Dr. Dien Syamsudin, Dr. Hidayat Nurwahid, dan beberapa tokoh muslim lainnya pernah mengajar di Universitas itu. Namun sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan masih melekat dibenakku jika membaca tulisan ‘Muhammadiyah’ di tengah kata Universitas dan Jakarta itu. Sang Pencerah asal Kauman, Yogyakarta.

                Di sisi kanannya terdapat jejeran ruko yang sudah menjadi ‘sunnatullah’  mewarnai lingkungan sekitar kampus. Sesuai dengan pepatah, ‘dimana ada gula di situ ada semut’. Hampir di seluruh universitas akan kita temukan di kanan-kirinya ‘bisnis spot’. Mulai dari tempat foto copy, toko buku, rental computer, warnet, hingga warung tegal atau lazim disingkat warteg.

                Tapi di sekitar jejeran ruko pada siang itu tidak lazim. Walaupun mungkin tak semua orang merasa tak lazim saat itu. Tapi hal itulah yang membuat aku berhenti di kala itu. Baliho, spanduk, atau apalah itu namanya yang membuat aku sedikit risih dan merasa tak lazim dengan tulisan yang ada di dalamnya. “EDISI KHUSUS CEWEK SEXY”, itulah yang tertera dalam spansuk yang berlatarbelakang hitam itu. Sepertinya tulisan itu hanyalah sebuah iklan dari salah satu majalah remaja. Ya! memang sebuah majalah remaja, karena disamping kirinya ditempelkan logo majalah dan tulisan “Edisi 10 Oktober 2010” di bagian bawahnya. Spanduk itu sepertinya bukan spanduk liar. Karena tertera pula di sisi kanannya logo Kepolisian.

                Ada suara halus tapi tegas kala itu yang mengatakan “Apakah hal seperti ini sudah menjadi hal yang lazim saat ini?” nggak tahu apakah suara itu dari hati, jantung atau mungkin paru-paru. Yang jelas suara itu ada di dalam diri. Sepertinya berasal dari tengah-tengah wilayah dada. Kemudian ia terus bertanya, “Bagaimana kalau ada sekelompok anak SD yang baru saja mampu membaca walau sepatah demi sepatah kata kemudian melintas di sekitar spanduk itu dan membacanya?” Kasihan ayah-ibunya mencari jawaban yang pas agar anaknya tidak senantiasa bertanya dan terus mengingat tulisan itu. Kasihan bapak-ibu gurunya ketika esok harinya ia juga masih mempertanyakan hal yang sama. Alangkah Lucunya Negeri Ini. Mungkin kang Dedy Mizwar bisa mengangkat tema ini dalam episode berikutnya. Hee..hhee…he. J

                Alangkah indah dan syahdunya perkataan Syekh Ali At Thontowi berikut ini, “Wahai putriku, sudah saatnyalah kalian membentuk sebuah lembaga yang terdiri dari para wanita. Yang di dalamnya kalian saling nasehat-menasehati tentang kebenaran. Jika mereka tidak mau mengikuti ajakanmu, maka takut-takutilah mereka dengan adzab Allah yang menimpa para wanita yang tak menjaga dirinya.”

Koantas BIMA

Apakah ini yang harus mereka rasakan setiap pagi? Disaat orang lain memulai aktifitas dengan segar bugar, tapi mereka harus memulainya dengan desak-desakan. SUASANA PAGI BIS KOTA JAKARTA RP. 2500.

Posisi tubuhku sudah tak lazim. Kondisi Bis Kota yang benar-benar sesak, membuatku berdiri terhimpit di antar penumpang lainnya di sudut pojok belakang bis. Tapi kondektur bis masih saja mencari dan memaksakan masuk penumpang. Para penumpang dianggap bukan manusia. Disusun seperti tumpukan teri-teri. Anggota tubuh saling melekat bahkan saling menekan. Lagi-lagi penumpang masih ditambah padahal tempat untuk parkir tapak kaki saja sudah tak tersedia. Aku saja hanya bertumpu pada kaki kananku, sedangkan kaki yang kiri hanya sekedar melekat di atas kaki penumpang lain. Sementara dadaku tertekan pada besi pelintang jendela bis, tapi aku lapisi dengan tangan kananku. Belum lagi aroma tak segar dari perpaduan tubuh-tubuh para penumpang.

“Astaghfirullahal’adzhim” tak pandang etika pria dan wanita. Aku melihat seorang wanita yang aku tahu prinsip hidupnya. Wanita berbusana muslimah merah jambu dan  berjilbab lebar, seorang Akhwat. Seorang muslimah yang pandai menjaga prilakunya, seorang muslimah yang pandai menjaga kehormatannya, seorang muslimah yang kesehariannya hanya mengharap ridhoNya. Namun, saat ini ia mengalami apa yang aku alami, detik ini ia merasakan apa yang aku rasakan. Ia terjebak di antara kerumunan penumpang lelaki. Aku lihat wajahnya yang tertunduk pasrah dengan keadaan. Terpaksa merelakan tubuhnya terhimpit lekat dengan tubuh-tubuh lelaki lain yang bukan mahramnya. Aku yakin, sayyidul istighfar memenuhi hatinya.

Tidakkah ada yang lembut hatinya dari sekian anak muda yang duduk di Bis Kota, mendahulukan wanita daripada dirinya? Tidakkah ada yang lembut hatinya dari abang kondektur yang tega-teganya menumpukkan manusia? (tapi apalah daya dirimu Bang, kau juga hanya berjuang ntuk menghidupi dirimu dan keluargamu). Tidakkah ada yang lembut hatinya dari para penguasa untuk melakukan pembenahan?

Mungkin mereka hanya makhluk-makhluk kecil yang tertusuk-tusuk oleh sudut-sudut segitigamu. Mungkin mereka hanyalah serangga-serangga kecil yang terhimpit oleh akar-akar beringinmu. Mungkin mereka hanyalah burung-burung pipit yang belum menerima padi dari sabitanmu. Mereka hanya kancil-kancil kecil yang kau seruduk dengan tanduk bantengmu. Atau mereka hanyalah anak-anak ayam yang sering kau incar dengan mata elangmu.

——————————————————————————————————————————————————————————————

Wahai penguasa. jika kau tak pernah merasakan hal itu , tak apalah kau coba rasakan sekali-kali betapa sengsaranya keadaan seperti tu. Tapi, kalau dahulu kau pernah merasakan, janganlah kau lupakan itu. Biar tergerak hatimu. Apalagi ini Jakarta, ibukota negara Indonesia. Tak wajar jika transportasi sperti itu. Walaupun Rp. 2500, kasilah fasilitas transportasi yang layak buat masyarakat kecil ni. Apalah susahnya kau ganti  bis2 tua berpolusi tu dengan yang baru daripada sibuk kau dengan cincin2 emas ap tu atau peswat2 presiden atw rmh2 mewah utk kandangmu. Ehh…. maaf, koq jadi curhat ya. Brgkali ini memang bkan tertuju pada anda. tapi siapa tau nanti ada yg jadi pejabat negara, latihan dulu jd rakyat kecil. Mohon maaf, jika ada salah2 kata.

cerita Rokok

Terlepas apakah cerita ini sebuah fakta atau hanya sebatas anekdot belaka. Cerita ini saya sadur, dengan menggunakan gaya bahasa sendiri, dari ceramahnya Aa’ Gym kemarin malam di Ponpes Daruttauhid. Beliau mengatakan dalam ceramahnya, “Ternyata pengusaha-pengusaha pabrik rokok yang ada di Indonesia bukanlah seorang perokok.” Mulailah beliau bercerita,

Suatu ketika pemilik usaha pabrik rokok berkunjung ke pabriknya. Setelah lama berkeliling sambil mengontrol karyawan-karyawannya yang sedang bekerja, akhirnya ia mengistirahatkan badannya di sebuah pondokan di tengah perkebunan tembakau. Sedang asyik-asyiknya bersantai, seorang karyawan baru menghampirinya sambil membawakan secangkir kopi dan rokok hasil buatan pabrik.

“Monggo Pak, kopinya diminum. Ini rokok hasil buatan pabrik, silahkan dicoba Pak.” sambil menyodorkan sekotak rokok ke hadapan pemilik pabrik.

“Maaf! saya tidak merokok”. Jawab pemilik pabrik

“Loh! kok nggak merokok Pak?” tanya karyawan baru itu kebingungan

“Kamu nggak mikir apa! Saya sekarang uda kaya, punya pabrik rokok pribadi, punya rumah dimana-dimana, punya marcedes keluaran terbaru, kemarin saja saya baru pesan helikopter. Untuk apa itu semua kalau nantinya saya penyakitan.” Dengan sombongnya pmilik pabrik menjelaskan.

Semakin bingung saja karyawan baru itu. “Maaf Pak, Apa hubungannya?”

“Kamu ini ya! punya otak tapi nggak dipake’, punya mata tapi nggak melihat. Kamu bisa baca nggak? Ini coba baca, ‘Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, gangguan pernapasan, impotensi, dan gangguan kehamilan’. MENGERTII!!”

“Trus, kenapa Bapak membuat rokok?”

“Justru itu, saya membuat rokok untuk orang-orang yang NGGAK BISA MIKIR dan NGGAK BISA BACA bukan untuk orang-orang cerdas seperti saya.”

Spontan jama’ah pada saat itu tertawa mendengar cerita itu, ditambah lagi dengan pembawaan Aa’ yang memang mengundang tawa.

——————————————————————————————————————————————————————————————-

Yah, setelah mendapat cerita ini saya menjadi terinspirasi. Bukan terinspirasi untuk merokok atau menjadi pengusaha pabrik rokok, tapi terinspirasi untuk berbagi cerita ini kepada teman-teman sekalian. Terkhusus bagi teman-teman yang udah candu nih sama yang namanya rokok, semoga sadar setelah membaca cerita ini. Ingat! Setiap teman-teman menghisap rokok walau dalam hisapan pertama, berarti teman-teman telah berikrar kepada Allah “Ya Allah…. hambaMu ini telah ikhlas sepenuh hati menerima setiap penyakit dari benda ini, Ya Allah…. hamba siap menerima potongan kontrak hidup hamba dariMu.” Dan setiap teman-teman hembuskan itu asap rokok, maka teman-teman mengucapkan, “Amiiiiiiiii…..iiin.” Semakin panjang tu asap, semakin panjang tu Amin. SEMOGA BERMANFAAT…..

                                                                                                         Bandung, 29 Januari 2010 

Ibnunnahl


Serasa Manisnya Iman

Serasa Manisnya Iman